Ibu… kau telah berikan kami segalanya,hingga kami bisa hidup dibumi persadamu. Namun apa yang telah kulakukan untukmu…?, Teringat waktu kecil kita dahulu yang begitu asyik dengan dunia permainan hingga tiada hari tanpa bermain,inilah dunia anak-anak.Namun ada seorang anak kecil yang tidak bisa merasakan betapa indah dimasa kanak-kanak.Pedih,perih,dan derita yang dirasa anak tersebut diwaktu kecil, sehingga kondisi yang sering ia terima seperti ini menjadi pemicu laksanya api yang berkobar-kobar,tumbuh sikap dan mental cinta terhadap lingkungan dan terhadap sesama. akhirnya dikemudian hari anak tersebut memiliki jiwa dan tekaad bahwa ” jangan sampai hal yang aku alami dialami pula oleh anak-anak yang lain, kushusnya generasi-generasi berikut sesudah saya dan cukuplah diriku saja ,cukuplah aku saja yang merasakan  jangan lagi hal ini terjadi pada putra putri ibu pertiwi “

     Ini adalah limpahan semangat anak tersebut, bahkan anak tersebut berpuisi ” Disanalah aku berdiri tuk jadi pandu ibuku,….Langit yang biru aku teringat pada masa laluku,…ganas ombak samudra apakah pantas aku meraih cita dan asa,…Gunung yang menjulang tinggi semuanya tiada arti jikalau hidup hanyalah mengabdi,…….Inggin kulempar gunung dan kuteguk seluruh air isi samudra tuk melampiaskan kemarahanku,kenapa hingga saat ini masih ada dirita di mana-mana,…Ohhhh hyang widhi, berilah aku kekuatan untuk meraih mimpi,mimpi memperoleh Keridhoan-Mu untuk mengabdi pada kemakmuran dan kesejahteraan Negri,… ini adalah surat untukmu Ibu “  Inilah sepenggal cerita dari seorang anak kecil yang seringkali menerima kepedihan,perih bahkan derita  di masa lalunya sehingga tertuanglah kepedihan itu dalam sebuah puisi yang berjudul “Surat untuk Ibu”. bahkan isi puisi itu adalah merupakan cinta-citanya selama ini.

Sumber: oleh Nanang Sarwono